Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2015

FAIL jadi orang aceh

Siang ini, ketika aku berniat untuk menuju mushola aku berpapasan dengan seorang staf OK yang beberapa kali telah ku temui sebelumnya. Saat itu, hanya ada aku dan bapak itu di koridor dan situasi berubah jadi awkward.

"Kiban?" sapanya sambil tersenyum ramah. 

Akuh? Langsung canggung dan jawab "eh? ya..., gitu pak... ehehehe" sambil cengar cengir linglung kayak ikan kesetrum

Lantas, ia melontarkan beberapa patah kata yang membuat ku sedikit banyaknya galau hari itu, "lhoh, gak bisa bahasa aceh ya??"

Bagai dentuman keras di telinga ku, merasa gak terima ku balas "bisa kok paaak...!" sambil melangkah pergi meninggalkannya tanpa pembelaan lebih lanjut.

So awkwaaaaard! Aku tahu bahwa "Kiban?" adalah kata ajaib yang digunakan orang sini ketika menyapa seseorang yang mana bernada akrab. Artinya secara harfiah sendiri adalah "bagaimana?", meskipun sebenarnya seseorang tidak benar-benar bertanya saat mengucapkan kata tersebut. Kalau dimisalkan dengan english menjadi "what's up?" yang bermakna "apa kabar" yang gak musti dijawab "kabar baik" dst, sekedar sapaan ajaaah. Yea, I know that pretty well! But i just flattered and didn't know what kind of answer would work in that moment!

Ugh, padahal udah lumayan pede ketika belakangan ini orang banyak yang bilang logat ku udah khas logat aceh, dan wajahku juga udah kayak orang aceh, tetapi ternyataaaaaa, udah gagal di level paling awal X"D

Another lebay story, gak terima dibilang gak bisa bahasa aceh walaupun kenyataanya memang enggak sih, hohohoho~

Kamis, 05 November 2015

Koas Masa' Gitu?

Udah sekitar 7 bulan menjalani proses pra klinik dan berstatus co-assisten alias koas tapi baru kali ini akhirnya terkumpul niat untuk menuliskan tentang suka duka kehidupan dalam rangka mencapai cita-cita inih. *memandang foto emak bapak*

Kami para sarjana berstatus mahasiswa di FK Unimal diharuskan menjalani studi pra klinik di RSUCM (bukan Cipto Mangunkusumo yeh but Cut Meutia) selama kira-kira 1 tahun 9 bulan yang dilanjutkan di RSUZA Banda Aceh selama kurang lebih 4 bulan dan lalu selama 5 minggu di RSUP Medan dan terakhir balik lagi untuk FOME di kampus tercinta selama 10 minggu. Ribet yeh, gak ribet bukan koas namanya. And yeah, perjalanan masih puanjaaaang~!

Banyak banget ilmu baru yang di dapat yang gak bakalan nemu dgn  sekedar baca textbook doang yang mana membuat ku berpikir masa perkuliahan selama 3,5 tahun itu seems wasting time and worthless XD *minta dipalu reflex*. Yah mau begimana lagih, kalau yang dibuku biasanya penyakit dibahas satu per satu giliran ketemu pasien biasanya udah campur-bayur gejalanya belum lagi latar belakang pasien yang berbeda-beda jadi beda juga penanganannya, beneran kayak belajar dari 0 lagih. Di sini lah aku bener-bener ngerasa gimana beratnya peran jadi dokter itu, tanggung jawabnya gengs, 'khan maeeeen~

Koas itu bikin stress!!
Yang ngerasa koas makin kurus biasanya karna kebanyakan kerja dan pikiran, kalau yang tambah gemuk berarti dia yang pandai mengatasi stress nya itu dengan asupan gizi berlebih #truestory

Minggu, 08 Maret 2015

Hills, Kids, and Cats


"Jangan katakan seberapa berpendidikan engkau, tapi katakan sudah seberapa sering kau berkelana..."



Ganteng ye quote nya. Segala teori yang tertulis di lembaran kertas tak sebanding dengan pengalaman langsung yang kita temui di dunia nyata. Mengunjungi banyak tempat, bertemu dengan orang yang tak kau kenal dan belajar hal baru, yeeeaah gaya bicaraku sudah seperti seorang traveler yang sudah penuh have-been-there-list nya. Padahal cuma baru berhasil menghampiri tiap desa yang termasuk dalam kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, bangganya udah selangit XD

Walaupun cuma satu kecamatan, waktu yang terlalui selama seminggu ini bagiku berharga.
Berawal dari keinginan membantu saudari menyelesaikan penelitiannya, perjalanan ini malah menjadi pengalaman yang seru. Tak terlupakan tiap momen dimana jidatku menempel di layar speedometer pada stang motor di siang hari karna kantuk menyerang, dari pagi hari menjadi supir pribadi sampai angin bersemayam di tubuh yang jarang dibawa aktivitas berat ini. Setiap hari begitu, meskipun masih sanggup menebar senyum pada tiap penduduk yang rumahnya kami datangi, aku belajar, keramahan itu terkadang melelahkan.

(Beating) Negative Thoughts

Ku kira, telah berhasil ku lewati fase yang paling sulit dari pengobatan penyakitku, yakni operasi. Ku kira, setelah ini aku sudah mulai bis...