Langit masih gelap, belum ada pertanda seluruh sisi dari Jakarta
telah bangun dari lelapnya malam. Sebuah mobil Kijang melaju dengan kecepatan
biasa di atas jalan tol Jatiwarna yang kala itu masih sunyi.
Jarum-jarum kecil
di arlojiku menunjukkan waktu pukul 06.15, hari ini kami kembali berhasil untuk
berangkat meninggalkan rumah lebih cepat. Rasa bangga sedikitnya memenuhi
benakku meskipun hal ini merupakan hal yang sudah seharusnya bagi orang yang
duduk di bangku kemudi itu. Ya, hal ini selalu menjadi syarat mutlak bagiku agar bisa
diterima sebagai penumpang setiap hari sekolah, meskipun terkadang aku curang. Aku beruntung Markas Besar TNI
tempat ayahku bekerja terletak searah dengan lokasi sekolah tempat ku menimba ilmu.
Mobil dinas pinjaman ini selalu
memanjakan ku dari penuhnya penumpang pada kendaraan angkutan umum di setiap
paginya. Perawakannya sudah jauh dari mobil baru, bahkan pulasan sana-sini yang
menimpa bagian yang telah keropos menandakan jelas bahwa mobil ini sudah pantas
disebut ‘rongsokan’. Bukannya tidak bersyukur, tapi aku merasa ayah tak pantas mendapat jatah mobil ini balik jabatannya yang lumayan tinggi.
“Anginnya kencang, kita tutup saja jendelanya…” suara parau
itu memecahkan keluh ku dalam diam.